
Saat Pintu hingga Jendela Bergetar Sendiri Saat Krakatau Erupsi
Saat Pintu Hingga Jendela Bergetar Akibar Erupsi Gunung Anak Krakatau Di Selat Sunda Pada Awal September 2026. Aktivitas gunung api tersebut juga menimbulkan suara dentuman serta getaran yang di rasakan warga di sejumlah wilayah. Bahkan, kekuatan getaran di laporkan cukup terasa hingga membuat pintu dan jendela rumah bergetar sendiri.
Fenomena tersebut terjadi ketika Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi menerus pada Sabtu, 5 September 2026. Warga di sejumlah wilayah Banten mengaku mendengar suara gemuruh dan dentuman sejak dini hari. Getaran yang muncul secara berkala membuat sebagian masyarakat khawatir, terlebih banyak warga masih mengingat tragedi tsunami Selat Sunda pada 2018.
Dalam laporan detikcom, warga bernama Rizqi menceritakan bahwa suara dentuman dan getaran jendela sudah dirasakan sejak sekitar pukul 02.00 WIB. Awalnya, ia mengira kejadian tersebut hanya di rasakan di rumahnya. Namun, setelah berkomunikasi dengan tetangga, di ketahui bahwa getaran serupa juga di rasakan oleh warga lainnya.
Erupsi Menghasilkan Lava Fountain
Badan Geologi menjelaskan bahwa aktivitas Gunung Anak Krakatau pada saat itu memiliki karakteristik erupsi Strombolian. Salah satu fenomena yang terlihat adalah lava fountain atau semburan lava seperti air mancur. Semburan berwarna merah menyala terlihat secara terus-menerus dan di sertai aliran lava. Fenomena semacam ini dapat terjadi ketika material magma dan gas dari dalam gunung api di lepaskan ke permukaan dengan energi yang cukup besar. Badan Geologi menyebut erupsi menerus selama beberapa jam yang berkaitan dengan lava fountain merupakan fenomena yang umum terjadi pada aktivitas gunung api.
Badan Geologi menyatakan suara dentuman dan getaran yang di laporkan masyarakat di sejumlah wilayah Jawa Barat, Banten, dan Lampung di duga berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang berlangsung pada waktu bersamaan.
Mengapa Saat Pintu Getaran Bisa Terasa di Rumah?
Getaran akibat erupsi gunung api pada dasarnya merupakan bagian dari pelepasan energi. Ketika terjadi letusan dan pergerakan material vulkanik, energi dapat merambat melalui udara sebagai gelombang suara maupun melalui tanah sebagai getaran.
Ketika energi tersebut cukup kuat, benda-benda ringan di rumah dapat ikut bergerak. Pintu, jendela, kaca, atau benda yang menggantung dapat bergetar ketika menerima gelombang tekanan atau getaran. Karena itu, pengalaman warga yang melihat pintu dan jendela bergerak sendiri bukan berarti rumah mereka mengalami gempa tektonik.
Fenomena ini juga memperlihatkan bahwa dampak sebuah erupsi tidak selalu hanya berupa abu yang jatuh di sekitar gunung. Suara, gelombang tekanan, dan getaran dapat menjangkau wilayah yang lebih luas, tergantung kekuatan erupsi serta kondisi atmosfer dan geografis.
Bukan Sekadar Suara Dentuman
Peristiwa pintu dan jendela bergetar menjadi pengingat bahwa aktivitas gunung api dapat memberikan dampak yang terasa hingga ke permukiman. Erupsi Anak Krakatau tidak hanya menghadirkan pemandangan lava merah menyala, tetapi juga energi vulkanik yang dapat menghasilkan suara keras dan getaran.
Di tengah kekhawatiran masyarakat, informasi resmi menjadi sangat penting. Pengalaman traumatis akibat tsunami 2018 membuat setiap aktivitas Anak Krakatau mudah menimbulkan kepanikan. Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak langsung mempercayai informasi yang beredar di media sosial tanpa melakukan verifikasi.
Yang paling penting adalah mengikuti perkembangan dari Badan Geologi, PVMBG, BPBD, dan pemerintah daerah. Dengan kewaspadaan yang tepat, masyarakat dapat memahami bahwa getaran dan dentuman memang merupakan bagian dari aktivitas erupsi, tetapi tidak setiap erupsi otomatis berarti akan terjadi tsunami.